Seruan Mana: Baca Novel Atau Nonton Filmnya?

Hal problematis bagi setiap film adaptasi dari novel

by TOGETHERWHATEVER

Lebih seru versi buku atau filmnya? Sebuah pertanyaan yang sering terdengar kalo ada film baru rilis yang merupakan adaptasi dari sebuah novel. Buat pembaca garis keras, biasanya mereka sering ngeluh kalo versi film malah ngerusak kehebatan sebuah novel. Padahal sih gak semuanya begitu. Ada juga kok versi film yang lebih asyik dinikmati daripada baca bukunya.

Baca juga: Imajinasi Liar Lala Bohang

Berikut ini Together Whatever mau mengulas tentang beberapa film adaptasi novel dengan penilaian versi mana yang lebih asyik buat dinikmati. Kalo ada film di bawah ini yang belum lo tonton, coba deh nanti ajak teman-temanlo buat nonton bareng. Pasti bakal seru tuh!

The Lord of The Rings (2001-2003)

Penilaian: Lebih asyik nonton filmnya!

Alasan: Tiga novel dari seri TLOTR memiliki alur cerita lambat dan penuh dengan berbagai karakter. Jika lengah, bisa-bisa pembaca kehilangan fokus cerita. Di dalamnya juga ada banyak sisipan syair-syair panjang yang membuat alur cerita jadi sedikit terganggu. Versi filmnya yang disutradarai oleh Peter Jackson jaun lebih menarik karena alur cerita yang cepat dan penuh dengan adegan aksi. Efek khusus dan sinematografinya yang keren juga membuat filmnya gak membosankan bahkan saat ditonton berulang kali. Adegan perang pada seri terakhirnya benar-benar enggak terlupakan!

Up In The Air (2009)

Penilaian: Lebih asyik nonton filmnya!

Alasan: Kisahnya tentang seseorang yang berprofesi sebagai company downsizer, tugasnya melakukan pemecatan dari karyawan berbagai perusahaan. Kebayang dong gimana kompleksnya reaksi orang-orang saat tahu dirinya dipecat? Versi film yang memberikan bahasa visual jauh terasa lebih "ngena" daripada kalimat deskriptif yang ada di novel. Berkat penampilan prima aktor utamanya, George Clooney, Vera Farmiga, dan Anna Kendrick, karakter-karakternya pun terasa nyata. Mereka bisa mewujudkan karakterisasi yang gak berkesan hitam putih. Penonton yang awalnya kesal sama George Clooney bisa aja merasa bersimpati kepadanya pada bagian ending.

Harry Potter (2001-2011)

Penilaian: Film dan novelnya sama-sama asyik!

Alasan: Meskipun skor situs Metacritic untuk bagian pertama versi film Harry Potter and The Deathly Hallows lebih kecil daripada skor novel dari Goodreads, enggak bisa dimungkiri kalo serial kehidupan penyihir ini punya versi buku dan film yang sama-sama baik. Setiap karakter di film terasa seperti realisasi sebenarnya dari versi buku. Beberapa adegan aksi dan tampilan visualnya juga nggak jauh dari apa yang selama ini pembaca bayangkan. Film ketiga yang digarap Alfonso Cuaron dan film terakhir adalah dua film terbaik dari serial Harry Potter.

The Golden Compass (2007)

Penilaian: Novelnya lebih asyik!

Alasan: Versi film dibuat dengan terlalu menyederhanakan adegan yang kompleks dari novelnya. Gagasan utama dari bukunya pun kayak gak tersampaikan dengan jelas lewat versi film yang lebih berfokus pada banyak adegan aksi. Narasi dan plot cerita versi film juga terasa datar. Emang gak mudah buat mengadaptasi buku ini, mengingat terlalu alur ceritanya yang berlika-liku dan penuh dengan karakter menarik.

Baca juga: Lagu-Lagu "Kode" Kalau Lagi Kesal Ke Teman

A Walk To Remember

Penilaian: Lebih asyik nonton filmnya!

Alasan: Chemistry antara Landon (Shane West) dan Jamie (Mandy Moore) benar-benar terasa nyata. Penampilan West benar-benar jadi kekuatan utama film ini. Beberapa adegan yang melibatkan dua tokoh utamanya mampu memancing emosi penonton. Gaya bahasa Nicholas Sparks di novelnya kurang enak buat dinikmatin, bahkan berkesan preachy. Alur ceritanya juga terasa sedikit lambat.

Jurassic Park (1993)

Penilaian: Lebih asyik nonton filmnya!

Alasan: Simpel aja sih, semua orang pasti pengen tahu bagaimana karakter dinosaurus dalam novel itu drealisasikan. Berbagai adegan aksi yang ditawarkan pun terasa lebih mencekam daripada narasi deskriptif yang ada pada novel. Proses pengembangansel dinosaurus dalam novelnya pun sulit buat dimengerti dan terlalu penuh detail memusingkan. Narasi film dan bahasa visual versi film lebih gampang dimengerti.

The Hunger Games

Penilaian: Novelnya lebih asyik!

Alasan: Efek khusus dan sinematografi pada versi filmnya berkesan gak maksimal. Jauh lebih menarik kesan yang dibayangin dari narasi deksriptif yang ada di novel. Daya tarik dari novel ini adalah karakter utamanya, Katniss Everdeen, yang sebenarnya gak tertarik buat ikut kompetisi tersebut. Dia hanya bernasib sial sehingga terjebak dalam alur permainan mematikan itu. Versi film kurang bisa mengungkapkan pergulatan batin yang dirasakan Katniss yang pada novelnya terungkap dalam beberapa percakapan monolog interior.

Baca juga: Apa Jadinya Kalo Semua Traveller Indonesia Gabung Jadi Satu Komunitas?

Ada film dari daftar ini yang udah pernah lo tonton? Gimana pendapatlo? Kalo punya rekomendasi film lain yang bisa dibagi ke pembaca, jangan ragu buat ungkapin opini di Together Whatever. Nanti lo bisa dapat point yang bisa ditukar reward menarik lho! Makanya sign up dulu yuk di sini.

Setuju sama tulisan di atas? Atau punya opini lain? Tulis opini lo di sini

dan dapetin 500 Whatever Points.

TOGETHERWHATEVER

Temen buat explore dan temuin pengalaman baru setiap hari

You May Also Like:

Image

Lokasi Film Perang Ini Bisa Jadi Inspirasi Jalan-Jalan

By TOGETHERWHATEVER

Nonton film perang itu gak cuma buat nikmatin adegan aksi, tapi cari inspirasi buat jalan-jalan

Image

7 Film Keren Ini Gagal Menang Best Picture Di Academy Awards

By TOGETHERWHATEVER

Yang jadi favorit Penonton belum tentu memikat hati dewan juri Academy Awards

Image

Ngehibur Orang Galau Pake Nge-rap? Iwa K Bisa!

By TOGETHERWHATEVER

Bikin suasana susah jadi happy lagi gara-gara Together Whatever bareng teman...dan Iwa K!

Image

7 Lagu Jadul yang Cocok Dinyanyiin Efek Rumah Kaca hingga Danilla

By TOGETHERWHATEVER

Dari pop khas Fariz RM sampai rock Dewa 19, Musik Indonesia penuh dengan harta karun!

Image

Bedroom Pop 101: Musik Enak Bukan Cuma buat Enak-enak

By TOGETHERWHATEVER

Mau denger musik enak yang bukan cuma buat "ena-ena"?