Celebrating Coffee Culture

Siang itu, di Café 1/15 di Gandaria, berderet-deret cangkir bening disajikan

Siang itu, di Café 1/15 di Gandaria, berderet-deret cangkir bening disajikan. Masing-masing berisi cairan kopi dari berbagai daerah dan negara. Kami berkumpul, dan dipersilakan mencoba satu persatu. Sebagai seorang yang awam – bahkan buta, akan coffee culture (maklum, kalau ke café cuma kenal caramel macchiato atau cappuccino), aku ragu apakah akan bisa merasakan macam-macam aroma dari kopi-kopi yang dibuat dengan teknik manual brew. Satu cangkir yang paling menyita perhatian adalah yang berwarna cokelat muda, sama sekali tak seperti bayangan kopi tubruk yang hitam pekat.

Dan benar saja, begitu dicoba, kopi Ethiopia ini memang beda sekali rasanya. It’s almost tea-like, unlike coffee at all. Body-nya sangat smooth, acidity level-nya rendah, ada aroma cokelat dan teh yang berpadu dan rasanya sangat ringan. Aku terkejut sekali, tak menyangka kopi punya berbagai rasa dan aroma. Temanku yang berada di sampingku siang itu menyeringai dan berkomentar, “Beda sama bayangan lo, kan, Lex?” Tergagap, aku mengangguk. Saat cupping kopi lain, berbagai rasa, aroma, acidity menyerbu. Mulai yang beraroma fruity – percaya nggak, ada kopi yang punya rasa dan aroma apel, anggur, bahkan citrus, aroma floral, chocolate, sampai ke caramel.

Baca juga: Playlist Aduhai yang Bikin Seru Hangout Lo di Tempat-tempat Ini

Acara cupping siang itu membuka sebuah horizon baru; bahwa kopi tak sekadar kopi tubruk atau cappuccino saja, tetapi ada banyak jenis, rasa, cara pembuatan. Beda biji kopi, beda cara membuatnya, beda juga rasanya. Saat itu, masih belum banyak coffee shop yang bereksperimen dengan berbagai cara untuk brewing coffee.

Dalam waktu beberapa tahun, semuanya berubah...

Kini, profesi barista sudah menjadi profesi yang keren. Bahkan sudah ada sekolah barista, ada juga Indonesia Barista Championship yang mempertandingkan barista-barista terbaik, sampai kompetisi membuat latte art yang mengagumkan. Tak hanya barista dan konsumen yang diuntungkan dengan meledaknya budaya meminum kopi di kalangan anak muda, ada coffee bazaar nasional, sebuah event yang mempertemukan petani kopi dan pedagang yang antusias membeli berbagai jenis kopi untuk dijadikan house blend yang nantinya akan menjadi ciri khas kopi dari kedai atau coffee shop mereka.

Para ahli dari negara-negara yang budaya kopinya sudah canggih didatangkan untuk mengajari petani kita bagaimana menumbuhkan kopi berkualitas tinggi dan mampu bersaing dengan produsen kopi dari negara lain yang bernama besar, pelatihan barista berlevel internasional, sampai franchise coffee shop terkenal mulai memasuki Indonesia – and I’m not talking about Starbucks.

Baca juga: Coffee Shop Bukan Lagi Gaya-gayaan Tapi Kebutuhan

Dengan meledaknya budaya minum kopi berkualitas, bermacam metode brewing juga mulai merasuki café dan kedai kopi. Mulai dari yang menggunakan mesin pembuat espresso yang harganya bisa sampai ratusan juta, hingga mesin berkualitas biasa yang ‘hanya’ berharga puluhan juta. Lalu ada juga metode menggunakan chemex, cold brew, french press, standard drip, hingga yang sudah begitu terkenal ratusan tahun lamanya: metode kopi tubruk. Bahkan untuk peminum kopi 'amatir', kini banyak sekali kedai kopi yang jualan kopi susu berharga sangat terjangkau tetapi punya rasa yang luar biasa. Anak-anak muda yang paham tentang tata cara pembuatan kopi? Oh, ada banyak banget! Mereka bahkan sudah mulai familiar dengan perbedaan rasa kopi yang dibuat dengan metode berbeda. Bahkan, di banyak tempat, hal ini menjadi bahan diskusi yang seru. They are not barista, but they surely know their coffee better.

Namun, kedai kopi tradisional tetap bertahan. Di Pontianak, anak-anak mudanya masih gemar nongkrong seru di kedai kopi tradisional, dengan sajian utama kopi tubruk yang dijerang dengan teko seng yang tinggi serta sepiring pisang goreng khas Pontianak dan obrolan yang terkadang memanjang hingga pertengahan malam. Di Jakarta sendiri, anak-anak mudanya selain nongkrong di cafe premium di dalam mal, juga semakin menggemari kedai-kedai kopi kecil yang menjual kopi berkualitas dengan harga terjangkau. Kopi bukan lagi sekadar minuman di pagi hari, tetapi sudah menjadi lambang pergaulan. Coba, berapa banyak dari kita yang sering janjian bertemu teman di kedai kopi, atau di cafe yang atmosfirnya enak untuk meeting atau sekadar ngobrol?

Ngomongin atmosfir yang enak tentu tak lepas dari interior yang ciamik. Design kedai kopi juga mulai berubah. Dari yang sekadar tempat ngopi biasa, kini banyak sekali coffee shop yang berlomba-lomba menjadikan tempat mereka sebagai tempat nongkrong yang asik, yang instagramable, yang membuat betah. In short, coffee shop kekinian.

Anak-anak muda makin melek dengan budaya nongkrong di cafe ditemani secangkir kopi enak dan obrolan panjang, dan tentu saja, membagikannya ke kanal sosial media masing-masing. Kalimat yang sering ditanyakan saat mau nongkrong di tempat tertentu, "Eh, di situ kopinya enak, nggak? Kalo gak enak, males, ah...", atau, "Eh jangan di situ, deh. Kopinya enak, sih. Tapi gak bisa kerja. Gak konsen soalnya tempatnya b aja..." atau yang juga sering terdengar, "Kopinya enak, tempatnya keren, tapi nggak ada wifi... Gak bisa kirim email atau update instagram, dong, gue...", atau malah, "Gue demen banget nongkrong di cafe A soalnya nggak banyak distraksi. Obrolan bareng teman-teman nggak keganggu sama hasrat update Instagram. Yang penting tempat enak, kopi enak, nongkrong tambah enak!"

Rasanya menyenangkan melihat kopi sudah menjadi budaya yang dinikmati semua kalangan, menjadi gaya hidup, membuka pintu rezeki bagi banyak orang, menjadi meeting hub dan tempat nongkrong anak muda dalam waktu beberapa tahun saja. Ngomong-ngomong, punya coffee shop favorit, nggak? Share, dong!

Disclaimer
Artikel ini merupakan tulisan pembaca TogetherWhatever.id. Isi tulisan diluar tanggung jawab togetherwhatever.id. Klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat, silakan hubungi TogetherWhatever.id dengan mengirimkan email ke info@togetherwhatever.id

 

Setuju sama tulisan di atas? Atau punya opini lain? Tulis opini lo di sini

dan dapetin 500 Whatever Points.

alexanderthian

He is a Writer and a Photographer. The combination of these two medium has gotten him to be invited to a lot of wonderful places to share stories from his unique perspective.

You May Also Like:

Image

Jakarta Mahal? Mitos Itu!

By TOGETHERWHATEVER

Ada banyak cara seru buat hangout asyik dengan budget terbatas

Image

7 Tipe Temen Traveling Yang Perlu Lo Tau

By TOGETHERWHATEVER

Rencana liburan gak selalu lancar, gak selalu "macet" juga. Cek tipe-tipe temen lo di sini

Image

10 Film Adaptasi Dari Video Game Seru!

By TOGETHERWHATEVER

Apa sih nama game yang paling sering lo mainin?

Image

Spot Instagram-able Ini Mungkin Ada Di Kampung Halaman Lo!

By TOGETHERWHATEVER

Udah keabisan spot yang instagrammable?

Image

5 Episode Terbaik "Black Mirror" yang Perlu Lo Tonton

By TOGETHERWHATEVER

Episode yang nggak boleh dilewatin dari serial yang lagi nge-hits.