21st Century Romance

Di season ke-9 episode ke-14 serial terkenal Friends, Joey dan Phoebe mencoba untuk bikin Rachel dan Ross balikan

by candraaditya

Di season ke-9 episode ke-14 serial terkenal Friends, Joey dan Phoebe mencoba untuk bikin Rachel dan Ross balikan. Mereka ngerasa bahwa Rachel dan Ross harus balikan karena pertaruhannya sudah besar: mereka punya anak bersama. Rachel dan Ross harus sadar bahwa mereka nggak pisah satu sama lain. Untuk itulah Joey dan Phoebe ngatur blind date terburuk. Rachel dipasangin sama pengangguran yang juga pecandu narkoba yang sepertinya impotensi. Sementara Ross bakalan dibikin nunggu karena cewek yang akan kencan sama dia nggak akan pernah datang. Episode berjudul The One with the Blind Date ini ditayangkan pada 6 Februari 2003.

Lima belas tahun lalu, hal yang dilakukan oleh Rachel dan Ross sangatlah normal. Tahun-tahun sebelum itu, ketemuan sama calon dambaan hati lewat teman tanpa perlu utak-atik sosial media diangap lumrah. Gue yakin, banyak diantara orang yang lo kenal—bisa orang tua atau bahkan om sama tante lo—yang bisa ketemu jodoh lewat papasan di jalan, ketemuan di angkot atau bahkan lewat koran atau tuker-tukeran surat lewat rubrik sahabat pena di majalah-majalah. Atau cara yang lebih old fashion: dijodohin sama orang tua.

Zaman sekarang, rasanya agak susah untuk ngebayangin skenario-skenario itu terjadi. Zaman sekarang semua orang menggunakan internet dalam semua aspek kehidupan mereka, termasuk menyeleksi calon pacar. Bahkan kalopun meet-nya nggak menggunakan dating apps, seperti misalnya si sahabat nyoba ngenalin temen kerjanya ke kita, hal pertama yang kita lakukan adalah mengecek media sosial. Seperti apa feed Instagram-nya, apa isi timeline Twitter dia, berapa mutual friends yang ada di Facebook dan jenis lagu apa saja yang dia dengarkan di Spotify. Kalopun dia ternyata bukan pengguna media sosial, hal ini juga bisa menjadi bahan perhitungan.

Manusia macam apa yang nggak punya sosial media zaman sekarang? What are you trying to hide, Man?

Oke lah. Mungkin di proses inisiasi si calon gebetan lulus. Ternyata dia juga suka sama albumnya Vance Joy. Ternyata dia jenis orang yang suka isi kuis di BuzzFeed—dari kuis Which Friends Character Are You? ternyata dia adalah Phoebe. Dan dia punya jumlah selfie yang tepat di Instagramnya. Nggak kebanyakan yang bikin dia jadi shallow tapi nggak sesedikit itu yang membuat lo mempertanyakan kepercayaan diri dia. It’s all good.

Baca juga: Spot Tersembunyi yang Asyik Buat Hangout di Jakarta

PDKT—see how I use this retro word for this purposes? Genius right?—zaman dulu nggak membutuhkan banyak effort. Lo ketemuan, nonton di bioskop. Kelar. Sekarang? There’s so many options. Kalo lo nonton, lo harus ngecek semua schedule film yang tayang di bioskop—tanpa harus buka koran. Kemudian lo buka RottenTomatoes untuk liat apakah film ini seru buat ditonton berdua. Kalo lo nggak nonton, lo mau ngopi di mana. Apakah dia ngopi? Kalo dia ngopi, dia jenis peminum kopi seperti apa? Apakah dia jenis yang menerima Starbucks sebagai tempat kopi atau dia jenis coffee snob yang harus ngopi di tempat yang beneran nyediain kopi-kopi terkurasi? Kalo tempatnya udah oke, kemudian lo mulai menghitung jarak. Apakah cozy enough? Apakah Instagramable? Apakah daerahnya kena macet? Semuanya ini bisa lo lakukan saat lo lagi duduk di toilet dengan ponsel di tangan.

Dan ternyata kencan lo sukses. Lo berdua ngobrol panjang. Dia ternyata punya selera humor yang bagus. Dia punya suara ketawa renyah yang ngangenin. Dia punya cerita lucu soal co-workernya. Dia nggak malu untuk ngaku bahwa dia hapal New Rules-nya Dua Lipa. Dia nggak bau dan nganterin lo sampe rumah. Dan akhirnya kalian berdua setuju bahwa kalian adalah couple.

Zaman dulu, pacaran terasa cukup intimate. Yang lo tau bahwa lo pacaran skalanya kecil. Mungkin temen-temen lo sama orang-orang di jalan yang liatin lo pegangan tangan waktu lo ke mal mau nonton Spider-Man 2. Cara pamer paling paripurna waktu itu adalah pergi ke mal dan mengabadikan momen bersama di photobox. Sekarang semuanya berubah. Even kalo lo adalah orang yang paling private, setidaknya akan ada satu momen yang lo share ke publik tentang hubungan lo berdua. Entah foto lo berdua lagi makan bareng. Bisa jadi kutipan lagu Ed Sheeran yang lo kasih ke dia. Atau cuma puisi pendek yang lo bikin khusus buat dia.

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Wiro Sableng Gabung ke Avengers

Putus pun juga sama. Kalo pun kalian nggak saling serang, mungkin kalian saling no mention di sosial media seperti ngepost lirik Christina Perri di Instagram, ngasih link video klipnya Taylor Swift di Twitter atau ngasih kutipan dialog dari Notting Hill di sebuah foto bergambar langit senja di Path. Kalo kalian memilih gak drama, dengan berhenti nge-post apa-apa, itu juga merupakan sebuah statement.

“Ini kenapa si Tiara nggak nge-post? Biasanya rajin.”

Keliatan kan pattern-nya? Dari proses inisiasi sampe mungkin ketika putus, internet memegang peranan penting dalam relationship di abad 21. Ini bukan sebuah kemunduran. Ini bukan karena kita telah berubah menjadi makhluk-makhluk yang lebih narsis atau shallow. Ini semua terjadi karena dunia sudah berubah.

Baca juga: Jakarta Ibu Kota Social Media

“Tapi, Can, semua yang lo ceritain cuman terjadi di kota-kota besar urban?”

Nggak, Cuy. Ini semua terjadi secara global. Percaya sama gue. Adek-adek temen gue yang tinggal di lereng Merapi ngisi feed Facebook gue dengan foto-foto selfie mereka sama pacar mereka. Adek gue di Malang bikin quote romantis buat cowoknya di Whatsapp Story. Tante gue curhat soal rumah tangganya lewat Facebook.


Tua, muda, di kota atau di desa, semua orang melakukannya. And I think it’s inevitable. Dunia akan terus bergerak maju dan kita semua harus bisa adapt atau ya kita bakalan ketinggalan. Tapi dari semua cerita singkat gue, satu hal yang pasti: the game changed but the taste still the same. Mau yang pacaran Dilan sama Milea, nyokap sama bokap lo atau lo sama pacar lo sekarang, sensasinya akan tetap sama: membuat lo cengar-cengir sendiri. Dan itu adalah yang terbaik.

Gimana menurut lo? Siapa tau lo punya point of view yang asyik untuk diceritain... share lah di sini! Ditunggu ya.

Disclaimer
Artikel ini merupakan tulisan pembaca TogetherWhatever.id. Isi tulisan diluar tanggung jawab togetherwhatever.id. Klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat, silakan hubungi TogetherWhatever.id dengan mengirimkan email ke info@togetherwhatever.id

 

Setuju sama tulisan di atas? Atau punya opini lain? Tulis opini lo di sini

dan dapetin 500 Whatever Points.

candraaditya

Candra Aditya has been writing for Provoke! Magazine since 2013. He writes about everything hip right now Provoke! Magazine reader that mostly teenagers can keep up with what’s happening online to offline in a very informative way.

You May Also Like:

Image

Hal-hal Yang Lo Nggak Tau Tentang Instagram Stories

By TOGETHERWHATEVER

Yang pengguna Snapchat, bisa jadi sampai sekarang masih pakai dan masih amazed sama banyak fiturnya

Image

Facebook? Twitter? Ini Media Sosial Paling Penting Buat Bokap-Nyokap Lo!

By TOGETHERWHATEVER

Secuil kisah tentang masalah berkomunikasi orang-orang jaman now.