Dipha Barus: Gue Gak Ber-Genre

Belum lama ini, Dipha Kresna Aditya Barus (well known as Dipha Barus) tampil di gelaran Together Whatever Sessions, sebuah event musik intim yang terdiri dari 7 seri dan berlokasi di tempat yang berbeda-beda.

by TOGETHERWHATEVER

Belum lama ini, Dipha Kresna Aditya Barus (well known as Dipha Barus) tampil di gelaran Together Whatever Sessions, sebuah event musik intim yang terdiri dari 7 seri dan berlokasi di tempat yang berbeda-beda.

Tim Together Whatever tentunya gak mau melewatkan kesempatan ini. Di event ini, Dipha yang tampil bersama Kallula mau meluangkan waktu untuk wawancara bersama Together Whatever tepat sebelum Dipha dan tim memulai santap malam.

Buat yang penasaran tentang update terbaru dan mau kenal lebih dekat, simak langsung hasil wawancaranya yang bertempat di Loewy Jakarta tanggal 20 September 2017 kemarin.

Lagi dengerin apa di EDM?

EDM justru jarang ya. Album terakhir, di EDM, yang menurut gue oke dan gue dengerin tuh LIDO albumnya yang terakhir. Terus Boys Noize yang “Mayday” juga. Oh iya, sama Calvin Harris yang “Funk Wav Bounces Vol. 1”! It’s a pop music anyway. But its good pop music.

Kalau band?

Arcade Fire yang “Everything Now”. Menurut gue itu album mereka yang paling nge-pop sih. Kalau yang paling wow, dari album sebelum ini. Pokoknya the best band in the world tuh bukan Coldplay tapi Arcade Fire.

Mau membuat proyekan baru tapi dengan format as a band?

Gue kemarin sih abis ngerjain musik buat band gue yang dulu, Agrikulture. Eh iya, the best band in the world buat gue adalah LCD Soundsystem hahaha! Anyway, gue sebenernya pengen sih buat nge-band tapi Punk.

Punk?

Hahaha apa ya, spirit Punk yang “Do It Yourself”, komunitas, promo karya dikerjain sendiri, itu gak berubah dari gue pas masih kecil sampe sekarang. Gue pengen sih ngerasain bermusik dengan spirit itu. Sekarang gue juga “DIY” sebenernya. Ngedesain sendiri, promo via media sosial sendiri, bikin lagu juga gak yang ngebayar orang. Gitu-gitu. I’m a big fan of Punk. Swedish Hardcore!

Siapa musisi yang mau diajak kolaborasi tapi belum kesampaian?

Iwan Fals, Fariz RM. Slank udah sempet. Raisa, Elephant Kind, Underground Business Club, dan seterusnya.

Semoga kesampean ya! Kalau festival?

Amen and it’s coming. Ada dari yang beberapa gue sebutin tadi hahaha! Anyway, ada Coachella, Hard Fest, Afropunk Festival, pengen banget.

Any thoughts buat yang mengkotak-kotakkan musik?

Bagi gue sih gak apa-apa ya, itu pilihan mereka. Tapi ya rugi aja kalau lo menutup kuping untuk genre tertentu. Toh buat ngedengerin part intro gak sampe satu menit kok. Jangan langsung ditutup kupingnya. Karena sebenernya itu bisa kasih referensi baru. Bagi gue musik gak ada yang jelek. Tapi taste. Proses bikinnya gak gampang, ada kisahnya sendiri. I respect that. Karena gue bikin musik dan gue tau susahnya kayak apa.

Misalnya Coldplay. Gue bisa dibilang gak suka. Tapi ya sebenernya bukan berarti literally “gak suka”, tapi lebih ke “gak semua lagunya masuk ke kuping gue”. Gue gak ber-genre deh haha.

Apa yang membuat Dipha Barus happy waktu on stage?

Semuanya sih. Tapi utamanya adalah gimana people react to your energy. Karena bagi gue waktu orang react to my original song, itu tuh gila banget. Gini: ketika lo bikin lagu, gak tidur, file-nya ada di laptop terus lo delete karena satu dan lain hal, bikin ulang lagi, taunya harddisk lo rusak, bikin lagi, bagusin lagi, terus hasilnya adalah orang react to your song, it’s the best feeling ever sih. Orang hafal liriknya, meremin mata terus nangis, apresiasi sih. Dan kritik juga. Kayak misalnya “Bro gue gak suka sama lagu lo, too commercial”, ya itu gak apa-apa. Masukan banget buat gue, like and dislike.

Apa arti together whatever di luar event ini?

Kebiasaan orang Indonesia ya. Sangat Indonesia, ber-komunal banget. Sambil ngelakuin banyak hal yang mereka suka bareng-bareng.

Kalau diminta ganti stage name selain Dipha Barus, mau pakai nama apa?

Mr. Joyful Noise. Itu nickname gue di MSN. I’m a big fan of Sun Ra, musisi Jazz inspirasi gue. Di film-nya ada kata-kata “joyful noise” gitu. Gue pake nama itu buat bikin musik yang sesuka gue aja. Eksperimental gitu. “Me time” lah.

Ada rencana untuk memakai nama itu?

Ada EP gitu, bakal keluar di tahun depan.

Start dari situ, akan pakai nama Mr. Joyful Noise?

Yang pasti nama itu akan ada terus sih. Sebelumnya pernah dipake sebenernya di salah satu event musik. Pake orchestra gitu, gue main Techno. Gak ada yang nonton hahaha.

Siapa yang paling menginspirasi seorang Dipha Barus?

Yang pertama Jesus, almarhum bokap gue, Steve Jobs, Frank Gehry (Architect). Gue suka arsitektur banget banget. Karena bagi gue semua tuh kayak pake sistem gitu. Gue gak kuliah arsitektur, gue kuliah desain. Tapi gue mengaplikasikan gimana pola pikirinya Arsitek. Sistemnya gitu.

Misalnya gini. Di arsitektur, ada yang namanya viewing. Lo duduk, lo liat kalau duduk di situ tuh view-nya gimana, efeknya apa. Sama kayak musik. Kalau lagu A nantinya didengerin di radio pas pulang kantor, kasih B aja biar lebih enak, gitu ibaratnya.

Setuju sama tulisan di atas? Atau punya opini lain? Tulis opini lo di sini

dan dapetin 500 Whatever Points.

TOGETHERWHATEVER

Temen buat explore dan temuin pengalaman baru setiap hari

You May Also Like:

Image

Maliq & D'Essentials

By TOGETHERWHATEVER

Union Jakarta

Image

Agrikulture

By TOGETHERWHATEVER

The Fifth

Efek Rumah Kaca

By TOGETHERWHATEVER

Eighty Nine Eatery & Coffee

Dipha Barus & Kallula

By TOGETHERWHATEVER

Loewy Jakarta

Stay Tune

By TOGETHERWHATEVER

See you on the next event

Related Article