Coffee Shop, Bukan Lagi Gaya-Gayaan Tapi Kebutuhan?

“Awalnya, saya dan teman tidak berpikir untuk menjadi pemasok kopi, tapi sekarang kami dianggap menjadi salah satu pemasok kopi terbaik di Indonesia.” - Irvan Helmy, Anomali Coffee Co-Founders

by TOGETHERWHATEVER

“Awalnya, saya dan teman tidak berpikir untuk menjadi pemasok kopi, tapi sekarang kami dianggap menjadi salah satu pemasok kopi terbaik di Indonesia.” - Irvan Helmy, Anomali Coffee Co-Founders.

Beberapa taun kebelakang, coffee shop lokal mulai makin jadi jamur. Hype-nya juga makin kerasa waktu anak-anak muda lebih milih buat nongkrong di “warung kopi” lokal ini, entah karena emang suka dan ngerti kopi atau karena trend semata. Jakarta (salah satu kota yang coffee shop lokalnya banyak banget), punya banyak banget coffee shop lokal minimalis ala-ala yang jadi pusat nongkrong anak muda. Tapi pertanyaannya, apakah cuman tren dan bakal segera turun atau emang udah waktunya buat naik daun karena kopi dan “tempat ngobrol” ini makin dibutuhin?

Trend coffee shop

Udah banyak banget kedai kopi lokal yang baru mengembangkan sayapnya di dunia bisnis kopi, sebut aja Crematology dan Kopi Nalar di Jakarta, Two Cents dan Two Hands Full di Bandung, dan Legend Coffee di Yogyakarta. Selain kualitas kopi dan menu yang komplit, ternyata venue yang eye catching juga termasuk salah satu faktor utama yang wajib ada supaya jadi daya tarik tersendiri terutama buat para “Generasi Social Media”. Karena banyaknya kedai kopi lokal yang baru dan nongkrong di sana ternyata lebih seru, jadinya banyak orang yang berbondong-bondong mau jadi Barista. Akhirnya bermunculanlah training-training Barista, lowongan kerja Barista, sampe kompetisi buat para Barista. Semua ini penanda kalau ekosistem coffee culture sedang jaya.

Flashback sedikit ke awal-awal ramenya kedai kopi di Indonesia. Anomali Coffee, mereka menancapkan bisnis kopi di Jakarta dari tahun 2007 sampai sekarang dan udah punya 4 outlets di Jakarta, 2 di Bali. Coffee shop inilah yang dianggap menjadi salah satu bangkitnya industri kopi Indonesia, di tanah Indonesia. Anomali Coffee sendiri stick dengan kopi asli Indonesia, di saat tahun 2007 trend yang sedang subur adalah ice blended dari sebuah merek waralaba kedai kopi asal Amerika.

Di sini lah tren nongkrong di coffee shop lokal berawal. Kemunculan Anomali Coffee yang disambut baik waktu itu oleh banyak orang, akhirnya membentuk pola dengan sendirinya. Banyak orang mulai datang mencoba buat duduk di coffee shop lokal, order kopi, besoknya balik lagi bareng temen yang lain, mulai betah dan jadi tempat kumpul rutin, jumlah pengunjung bertambah, akhirnya muncul coffee shop lain buat menjawab kebutuhan, dan begitu seterusnya sampe hari ini udah bertaburan coffee shop lokal.

Apakah Coffee Shop Jadi Kebutuhan?

Awalnya coffee shop emang buat sekedar tempat nongkrong yang enak buat ngobrol. Biasanya para muda-mudi ini nongkrong di kantin sekolah, kampus, rumah temen, atau bahkan mall. Tapi sekarang mereka lebih pilih coffee shop untuk hangout. Kedai kopi jadi pilihan pertama buat mereka. Mall cuma jadi tempat mampir kalau mau beli sesuatu, diskon akhir jaman (akhir tahun), atau nonton bioskop. Gak cuman anak kuliahan, coffee shop juga jadi pilihan buat karyawan bahkan pebisnis yang cari tempat untuk casual meeting. Termasuk para freelance yang lagi suntuk kerja di rumah. Pasti pernah kan liat orang laptop-an?

Jadi, coffee shop emang udah bukan trend lagi. Coffee shop menjawab kebutuhan banyak orang. Mulai dari minuman dan cemilannya yang ringan alias gak bikin bingung, akses parkirnya yang gak dihitung per-jam, wifinya yang ngebut, suasananya yang gak bikin harus “dandan” kayak di mall, interior-nya yang cool, dan lain-lain.

Tapi kalau masih gak percaya coffee shop udah jadi kebutuhan, coba ajak temen Lo cabut. Ujungnya pasti mendarat di coffee shop. Kalau nggak, jewer kuping Lo sendiri atau kasih tau di kolom komentar kemanakah nongkrong yang seharusnya!

Setuju sama tulisan di atas? Atau punya opini lain? Tulis opini lo di sini

dan dapetin 500 Whatever Points.

TOGETHERWHATEVER

Temen buat explore dan temuin pengalaman baru setiap hari

You May Also Like:

Image

Agrikulture

By TOGETHERWHATEVER

The Fifth

Image

Aditya Permana & Bima G

By TOGETHERWHATEVER

Bau-Haus 1933

ICONS

By TOGETHERWHATEVER

The Dutch

RBA, Fandy DFMC, Ramengvrl & Iyo

By TOGETHERWHATEVER

Hatchi Jakarta

Maliq & D'Essentials

By TOGETHERWHATEVER

Union Jakarta

Related Article